Leave a comment

“MALAIKAT ” DIBUMI BERNAMA IBU

Ya Rabbi, saat awal penciptaanku, mungkinkah aku takut turun kebumi ? mungkinkah aku takut kesendirian ? namun Kau karuniakan kepadaku “malaikat” yang selalu menjagaku dengan kelembutan dekapannya,yang sampai rela mengorbankan jiwanya demi menjagaku.

Ya Robbi, mungkinkahawalnya aku merasa khawatir bumi tak seindah surga. Tapi wahai Allah, Kau karuniai aku sesosok “malaikat” yang membibingku untuk mengenal Islam.

Duhai jiwa, terkenanglah kembali sosok “malaikat” itu. Ibu… lahirku kedunia , berhutang darah dan nyawa kepada ibuku. Perjuangan yang melalui garis batas antara hidup dan mati. Pengorbanan yang bukan dilakukan oleh pria yang gagah perkasa, tapi oleh wanita dengan segala kelemahannya.

Ibu, maafkan aku…Lahirku kedunia, belum mengenal rintihan sakit yang kau derita. Lahirku ke dunia, belum mengenal hebatnya pendarahan yang kau alami.Dan lahirku di duniapun, belum mengenal perih yang kau rasa.
Ibu maafkan aku… Kecilku dulu, aku belum mengenal kantukmu yang terbangun karena tangisanku. Pun aku belum mengenal lelahmu merawat dan membesarkanku. Ya, aku masih belum mengenal air mata yang selalu mengalir tiap saat kau mendoakanku.
Ibu maafkan aku…saatku mulai bersekolah, aku massih saja belum menyadari bahwa kenakalanku cukup menguras kesabaranmu. Kejengkelan hatiku saat anak-anak dahulu, pernah berbuah bentakan padamu. Ibu,aku belum menyadari kalau hatimu terluka, teriris perih, tapi kau tetap membelaiku lembut tanpa ada beda dari sebelumnya. Kontras dengan kerasnya intonasi ucapanku saat itu padamu.

Ibu maafkan aku… remajaku dulu, aku masih belum mengenal bahasa penjagaanmu padaku. Kau larang aku pergi malam, kau menyuruhku tuk tetap tinggal, menemanimu yang tengah sendiri dirumah. Tapi aku lebih memilih keceriaan bersama teman. Aku lebih memilih kebersamaan bersama mereka.

Duhai ibu, sekali lagi, maafkan anakmu, aku belum mengerti betapa berharganya kehadiranmu dalam segmen-segmen hidupku.

Mendungnya kota mengajak hatiku tuk merindu . kelembutan awan mengingatkanku akan kelembutan kasih sayang ibu. Keteduhan langit kali ini, membawaku teringat kembali akan keteduhan sorot mata ibu. Dingin yang kurasa ini, mengingatkanku akan hangatnya pelukan ibu.

Ya Rabbi, aku tak ingin mengenalnya saat ia telah tiada. Dewasaku kini, tak ingin terlambat mengenalnya. Aku tak ingin terlambat lagi memahami kasih sayang, pengorbanan dan ketulusannya.

Ibu… jagalah ia selalu, ya Rabbi. Cintailah ia melebihi cintanya padaku. Hadirkanlah selalu keridhaanMu, sebagaimana ia selalu menghadirkan kebahagiaan dalam relung jiwaku. Tuntunlah ia menapaki jalan surgaMu, sebagaimana ia selalu menuntunku tuk semakin mengenalMu. Dan baikkanlah akhir hayatnya,ya Rabbi, melebihi baiknya kemuliaan akhlak yang ia ajarkan padaku .

Amin ya rabbal allamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: