Leave a comment

MAN ROBBUKA

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat ayat 56)

Dalam ayat diatas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Konteks dari ibadah ini sering menyempit maknanya, sebatas ritual yang dijabarkan dalam rukun islam, padahal konteks yang lebih luas adalah bagaimana mengaplikasikan pengertian dari ritual ibadah-ibadah tersebut dalam setiap tingkah laku kita sehari-hari.

Perbuatan yang akan kita lakukan dimulai dari niat. Niat menentukan motivasi dan sikap mental kita dalam melakukan segala sesuatu. Dalam ajaran Islam kita dibiasakan untuk mengucapkan “Bismillah” atau “Dengan nama Allah” sebelum melakukan keseharian kita. contoh dalam ritual Thaharah atau bersuci atau berwudhu sebelum melakukan ritual ibadah shalat. Wudhu adalah bersuci yang disucikan adalah anggota wudhu dimulai dari telapak tangan hingga telapak kaki. Melakukan wudhu harus disertai dengan pengertian bahwa tindakan membasuh anggota wudhu dengan air atau debu adalah ikrar kita kepada Sang Maha Pencipta. pengertian bagian awal dari wudhu sebagai contoh, yaitu membasuh kedua telapak tangan. Ia memaparkan bahwa tindakan tersebut harus disertai pengertian bahwa sebagai individu, kita mengikrarkan diri kita untuk mensucikan apapun yang dilakukan oleh kedua telapak tangan kita dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah. Artinya, dengan berwudhu, kita harus menyadari bahwa ada aturan Illahiah yang mengatur tindakan kedua telapak tangan kita selama hidup di dunia. Dalam aplikasi berwudhu, kita tidak boleh “abas” atau “asal basah” dalam melakukan wudhu, tapi kita harus paham makna-makna dari tindakan bersuci tersebut, juga lama atau tidaknya kita berwudhu bukanlah inti dari kegiatan tersebut. Dengan kerangka berpikir seperti itu, lantas ritual-ritual ibadah, khususnya shalat, tidak hanya menjadi rangkaian jurus dan mantra saja, tapi dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Bismillah” sebagai niat kita dalam melaksanakan ibadah dan ritual ibadah. Penerjemahan dari “Bismillah” sendiri ternyata ada dua, yaitu “dengan nama Allah” dan “dengan atas nama Allah.” Terjemahan pertama bermakna bahwa apapun yang kita lakukan diniatkan dengan motivasi mengharapkan keridhoan dari Allah SWT semata, sedangkan makna yang kedua menyatakan bahwa kita sebagai insan atau individu adalah perwakilan dari Allah di planet bumi. Pemaknaan pertama yang menjadi fokus adalah ikrar bahwa tiada Illah-Illah lain yang menjadi pengharapan kita, sedangkan fokus dari pemaknaan kedua adalah kita menjadi manifestasi atau perwujudan dari perintah-perintah Allah sebagai wakil Allah SWT.

contoh bahwa dalam Islam kita diajarkan untuk menjadi seorang Wirausahawan yang berpenghasilan, bukan pegawai yang digaji karena kita sudah kita dibiasakan untuk bekerja karena Allah bukan karena uang atau gelar. Melakukan pekerjaan karena Allah memerlukan proses berpikir, tidak hanya menerima gaji saja tanpa memedulikan halal atau haramnya uang yang kita dapatkan. Dalam Sistem ekonomi syariah dikenal istilah bagi hasil, yaitu hubungan diantara pekerja dengan pemberi kerja adalah rekanan, bukan atasan dan bawahan. Dalam sistem usaha syariah, setiap individu yang terlibat memiliki tanggung jawab yang sama terhadap bidang usahanya dan mendapatkan hak yang sesuai dengan penghasilan yang didapatkan oleh perusahaan, sebaliknya dengan sistem usaha konvensional yang memiliki sistem pembukuan tertutup, pegawai hanya akan gaji, tanpa mengetahui bila perusahaannya untung atau rugi. Dalam konteks usaha syariah, titik perhatiannya adalah rasa memiliki usaha sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT, bukan bekerja atau menyelesaikan pekerjaan dengan tujuan mendapatkan gaji semata. Dua motivasi yang berbeda tersebut menimbulkan dampak yang berbeda, di satu pihak bila niat kita bekerja adalah beribadah untuk Allah, maka motivasi kita adalah melakukan yang terbaik, sedangkan bila niat kita untuk mendapatkan uang maka motivasi yang terbentuk adalah mendapatkan yang terbanyak, bahkan dengan cara apapun.

perbuatan berghibah atau menyebar fitnah. Secara naluriah, manusia mudah tertarik dengan berita kejelekan orang lain, berbanding terbalik dengan kabar kebaikan atau kontribusi yang dilakukan oleh orang lain tanpa menyadari konsekuensi dari tindakan tersebut. Kang Dicky mengajak hadirin untuk menulis kata “keburukan” pada secarik kertas untuk dikumpulkan secara estafet pada orang paling kanan di barisan terdepan baik itu shaf ikhwan maupun shaf akhwat. dari puluhan peserta yang hadir, terkumpul puluhan kertas pula pada peserta ikwan dan akhwat tersebut. Simulasi tersebut menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu yang singkat, bagi keburukan yang disebarkan kepada banyak individu untuk menjadi catatan amalan yang harus dipertanggung-jawabkan nanti di hari penghisaban. Ibaratnya satu orang yang menyebar keburukan, maka semakin banyak orang-orang yang mengetahui kabar keburukan tersebut, semakin banyak pula dosa yang menjadi tanggung jawab si penyebar kabar begitu pula sebaliknya.

fenomena gelar yang terjadi di kehidupan sehari-hari dan dalam bidang akademik. Gelar merupakan sebuah kebanggan yang dicapai ketika berhasil melaksanakan sesuatu agar sesuatu yang telah kita capai tersebut mendapat pengakuan dari orang lain. Kang Dicky menyinggung mengenai gelar “Haji” dan gelar “Sarjana.” Gelar Haji merupakan pengakuan yang diberikan masyarakat atau diri sendiri bahwa individu tersebut telah melakukan ibadah Haji dengan motif menunjukkan bahwa orang tersebut, semata-mata, telah melakukan ritual ibadah Haji dengan susah payah, sedangkan gelar Sarjana merupakan gelar yang didapatkan setelah individu menuntaskan kewajibannya melakukan rangkaian akademik di perguruan tinggi. Ritual Ibadah tersebut dan rangkaian pembelajaran di perguruan tinggi telah beralih fungsi menjadi alat kepentingan pribadi, bukan didasari “dengan nama Allah.” Dengan tujuan tersebut, kepentingan yang muncul adalah mendapatkan kebanggan dari gelar tersebut bagi individu, bukan tindakan nyata individu tersebut bagi umat baik itu dari ibadah yang telah dilaksanakannya atau ilmu yang dimiliki dari proses akademis tersebut.

perbedaan antara penceramah dengan ulama. Penceramah adalah orang yang seseorang (yang berprofesi) melakukan ceramah, sedangkan ulama adalah seorang ilmuan yang meneliti hakikat ilmu pengetahuan. Penceramah bukan ilmuan, karena penceramah hanya menyampaikan kabar, sedangkan ilmuan melakukan penelitian untuk memahami bidang ilmu tertentu. Manusia cenderung belajar dari contoh, bukan hanya dari pembicaraan saja, sehingga tanggung jawab seorang ulama lebih besar daripada seorang penceramah, karena dia harus bisa mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu atau memberikan kontribusi dari ilmu pengetahuan yang telah dipahaminya, tidak hanya sekedar mengabari saja. Walaupun begitu, siapapun tidak berhak melabeli seseorang itu kafir atau bukan hanya dengan pemahamannya saja, karena didalam QS. An-Nahl ayat 112 disebutkan bahwa hanya Allah-lah yang paling mengetahui siapa saja orang yang tersesat sehingga tidak ada satu manusia pun yang berhak melakukan itu, bila ada yang bertindak seperti itu, maka secara tidak langsung dia sudah bermain menjadi Tuhan.

“hidup adalah NYATA, sedangkan MIMPI adalah bagi yang tidur.” Islam mengajarkan manusia untuk selalu bertindak dan tidak terjebak pada teori saja, karena Allah telah memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik, dimulai dari diri kita sendiri. tubuh manusia itu sudah lengkap dan dilengkapi dengan sensor-sensor yang bisa mengetahui perubahan alam. Adzan adalah penanda waktu shalat, namun perubahan alam yang terkait dengan waktu shalat itu bisa kita rasakan bila kita mau mengenalinya.

“Siapakah Tuhan Kita?”

definisi Tuhan sebagai yang disembah, yang dipuja, ditakuti, yang diprioritaskan dan mampu membuat kita melakukan apa yang tidak sukai. “Siapa Tuhan kita” menjadi motivasi dalam benak kita untuk bertindak semasa hidup di dunia ini. Selanjutnya, apakah kita benar-benar mengenal “Siapa Tuhan Kita” atau masih ada Tuhan-Tuhan lain didalam benak kita, entah itu orang tua, entah itu nilai, entah itu pacar atau hal-hal lain yang jauh dari Tuhan yang sebenarnya. Kang Dicky mencontohkan, salah satunya, saat kita berlalu-lintas di jalan raya. Apakah kita tertib hanya pada saat ada polisi saja atau memang motivasi kita untuk berlaku tertib adalah Allah, sebagai Tuhan kita, bukan hanya karena diawasi manusia belaka?

QS. Al-Baqarah ayat 156, tentang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Ia mengajukan pertanyaan kepada hadirin, mengapa kita diperintahkan “mendirikan” shalat, bukan hanya sekedar mengerjakan shalat? “Mendirikan shalat” ternyata merupakan aplikasi ritual shalat dalam kehidupan sehari-hari. Ia menambahkan bahwa ukuran manusiawi itu menurut siapa, apakah menurut manusia atau menurut Tuhan? Manusiawi menurut Tuhan adalah mampu mengendalikan diri menggunakan akal sebagai senjata. Mengendalikan diri adalah menggunakan akal sebagai alat untuk mengendalikan emosi atau nafsu. Akal adalah sarana yang diberikan Allah sehingga menjadikan manusia sebagai mahluk yang sempurna menurut Allah. Menggunakan akal sebagai sarana tersebut memunculkan paradigma sabar sebagai bentuk pemakluman atau pengertian terhadap permasalahan yang dihadapi, bukan artinya bahwa sabar adalah diam tidak berdaya. Dengan pengertian demikian, maka ibadah sebagai sarana untuk mencari solusi, bukanlah sebagai sarana untuk iba diri dalam menghadapi permasalahan. kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk memenggal anaknya Nabi Ismail sebagai cerminan aplikasi sabar dalam berpasrah dan memaklumi masalah sebagai kehendak Allah dalam kejadian-kejadian yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memaklumi atau memahami permasalahan, kita dituntut untuk tidak “menyalahkan.” Contoh yang selanjutnya dikupas adalah mudahnya kita menyalahkan atau merasa kesal terhadap tokoh yang namanya “iblis” padahal bila dipahami, maka tanpa tokoh “iblis” sebagai penggoda maka kita tidak dapat beribadah, karena tiap-tiap ciptaan Allah itu diciptakan berpasang-pasangan, saling terikat dan saling mempengaruhi. Dalam proses memahami, kita perlu menghilangkan penilaian secara sepintas tapi lebih mendahulukan proses berpikir, karena sesuatu atau yang menyebabkan seseorang menjadi “seperti itu” pasti ada lika-liku penyebabnya. Begitu pula dalm memahami masalah, jangan mendahulukan nafsu tapi mendahulukan proses analisis mengapa masalah tersebut terjadi sampai bagian terkecil. Bila kita sampai pada tingkat pemahaman tersebut, maka kita dapat merasakan bahwa pemakluman itu nikmat.

Mengikuti hawa nafsu merupakan hal yang enak, makanya diulang-ulang karena kita merasakan kenikmatan pada saat terjadi sensasi-sensasi emosional tersebut. Pada saat mengalami sensasi-sensasi emosional yang namanya hawa nafsu tersebut, seharusnya kita memilih berpikir menggunakan akal untuk bertindak menuju perubahan sikap atau sudut pandang yang lebih baik. Dalam konteks tersebut, kita akan semakin memahami bahwa hidup itu memang tidak mudah dan hidup itu memerlukan berbagai ilmu pengetahuan untuk memahami apa yang kita hadapi dan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita tidak akan hanya sekedar bertindak berdasarkan emosi, tapi memahami dan menganalisis untuk bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Akibat dari pengertian tersebut, maka doa yang paling baik tidak hanya dengan ucapan saja tapi seharusnya dengan tindakan juga. Konsekuensi dari pola pikir tersebut adalah kita akan memandang agama sebagai rangsangan berpikir untuk setiap individu, bukan hanya sekedar doktrin tanpa pemahaman tentang perintah-perintah Allah yang ala kadarnya kita lakukan. Jarang sekali kita membongkar mengapa kita menyikapi suatu masalah melalui sudut pandang tertentu, padahal sudut pandang yang kita gunakan bukanlah mutlak tapi merupakan salah satu pilihan saja. Seringkali kita terjebak pada sudut pandang yang lebih praktis karena kita enggan untuk berpikir atau menganalisis persepsi yang kita gunakan sehingga berakibat gejala-gejala emosional yang kita alami.

Mari kita mencatat keburukan-keburukan sifat masing-masing pada selembar kertas dengan tujuan untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya atau berterus terang tentang siapa diri kita sebenarnya, bukannya melakukan pembenaran-pembenaran tentang siapa diri kita sebenarnya. Kemudian, remas lalu melempar kertas tersebut ke depan.bahwa sebenarnya makna dari lempar Jumrah itu bukanlah melempari “setan” tapi melemparkan “setan” keluar dari dalam diri kita. Hal tersebut berdasarkan interptretasi QS An-Naas ayat ke 6 bahwa “setan” itu dari golongan jin dan manusia, artinya setan itu adalah inner evil atau sifat jelek yang dimiliki oleh insan dari golongan jin dan manusia. ralitas dari kegiatan lempar Jumrah di Jamarat. Insiden-insiden yang terjadi di Jamarat atau di Mina adalah merupakan pertunjukan dari ego manusia, padahal seharusnya ritual ibadah haji bukanlah bertujuan untuk mengendalikan ego dan membuang sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.

perspektif atau mengenai cara pandang terhadap perbedaan yang terjadi diantara kita. Dalam menyikapi perbedaan pendapat maka yang menjadi acuan adalah fakta, bukan ego pribadi yang didasarkan pada doktrin. Perbedaan pendapat jangan dilarang karena merupakan proses berpikir dalam memperhatikan atau mengenali sesuatu secara detail, bukannya keukeuh berdasarkan doktrin atau cara pandang yang diajarkan. Perhatikan lebih dekat dan lebih detail atau melakukan analisis yang mendalam, bukan mendahulukan emosi. Pola analisis mendalam dengan memperhatikan detail menyebabkan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh ilmuan Islam. Debat berdasarkan perbedaan pendapat dengan melakukan pembenaran-pembenaran diajarkan agar kita terpecah belah, sedangkan itu bukanlah ajaran Islam karena ajaran Islam mengajarkan persatuan bukan perpecahan. seribu argumen dapat dipatahkan oleh satu fakta karena Islam mengajarkan untuk mencari fakta bukan beradu argumen. Dalam ajaran Islam, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan segala sesuatu secara keseluruhan, sebagai dasar kepatuhan kita kepada Allah.

Dengan memahami mind perception, kita belajar untuk mengendalikan diri kita bila sesuatu terjadi diluar kehendak kita. Dalam menyikapi kehendak, harta dan anak itu adalah cobaan, bukan aset karena seringkali kita gagal mengelola harta dan anak hanya karena kenyataannya tidak sesuai dengan keinginan kita. persepi hari kiamat sebagai hari kehancuran, padahal yaum al-qiyamah sendiri bermakna sebagai hari kebangkitan. Kebangkitan tersebut bermakna tubuh kita yang sudah tidak bernyawa dibangkitkan kembali.

Dasar pemikiran dari pengenalan terhadap “siapa Tuhan kita” merujuk kepada Luqmanul Hakim yang mengajarkan kepada anaknya tentang siapa Tuhannya. Ternyata pengenalan tersebut seharusnya menjadi dasar yang diajarkan kepada anak sejak dini. Orang tua cenderung untuk memvonis apa yang sedang dialami anaknya sejak dini, tapi enggan untuk mengerti apa yang sedang dialami oleh anaknya tersebut. Padahal, sebagai orang tua, kita memiliki kemampuan untuk mengerti siapa anak kita dan memberi pengetahuan kepada anak kita sejak dini. Hal itu luput disadari karena kecenderungan menganggap anak sebagai kebanggaan, bukan sebagai titipan. Mengenalkan anak tentang “siapa Tuhannya” merupakan amanah orang tua yang diperintahkan didalam Al-Quran melalui contohnya Luqmanul Hakim. Orang tua memiliki amanah untuk membekali anak tersebut karena yang membentuk persepsi anak tentang siapa dirinya sejak dini adalah orang tuanya. contoh tentang permasalahan yang dihadapi anak pada saat remaja yaitu penyalah-gunaan narkoba. Permasalahan tersebut muncul karena kurangnya pembekalan moral orang tua untuk menyikapi pengaruh lingkungan dan pergaulan yang dihadapi oleh anak. Orang tua cenderung mudah memercayakan pendidikan moral anak kepada institusi pendidikan, padahal pada dasarnya tumbuh-kembang anak adalah tanggung jawab orang tuanya. Anak hanya dipandang sebagai alat kebanggan, motivasi mendidik anak bukan karena Allah tapi karena kebanggaan yang diidamkan oleh orang tuanya.

Mari kita mengkaji, bukan sekedar membaca saja. Ia mengajak memperhatikan profil Rasulullah yang dikatakan ummiy atau tidak bisa membaca, padahal Rasulullah seorang pedagang atau pengusaha. Dalam konteks tersebut, apakah yang tidak bisa “dibaca” oleh Rasulullah? Sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh Rasulullah adalah pesan yang dibawa oleh Jibril, karena Jibril membawa pesan dalam bahasa baru yaitu bahasa wahyu. Rasulullah kemudian menyikapi pesan tersebut dengan menerimanya, kemudian memprosesnya, itulah makna dari sami’na wa atho’na. Begitulah pula, sikap kita dalam mengkaji bukan sekedar membaca. Fenomena panik, khawatir atau bersedih pada saat kita kehilangan. Bersedih sesungguhnya adalah self pity atau iba diri atau mengasihani diri sendiri. Kita bersedih karen kehilangan sesuatu yang menguntungkan diri kita sendiri, kita lupa bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang terbaik, karena “semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah.” Bila kita memilih untuk percaya bahwa Allah mengetahui yang terbaik bagi diri kita, maka kita tidak akan memilih untuk panik, khawatir atau bersedih. Manusiawi menurut Allah adalah manusia yang dapat mengendalikan dirinya dengan baik dan benar. Kunci dari ibadah puasa adalah pengendalian bukan menahan. Pengendalian adalah distribusi, maka distribusikan nafsu kita dengan baik dan benar. Dalam mengkaji atau “mengaji” itu kita harus selalu bersikap hati-hati, karena pengkajian itu memperhatikan detail.

“setiap jiwa pasti akan merasakan mati.” perbedaan antara “setiap jiwa” dengan “tiap-tiap yang berjiwa.” Kajian tersebut merujuk kepada bahwa untuk mengaji atau melakukan pengkajian atau melakukan analisis, kita harus sangat berhati-hati. Kehati-hatian itu disebabkan oleh perbedaan arti kata atau rangkaian kata dapat menyebabkan pemaknaan dan penjabaran yang berbeda pula. Yang dimaksud “setiap jiwa” merujuk langsung atau direct kepada jiwa tersebut, sedangkan “tiap-tiap yang berjiwa” merujuk kepada jiwa-jiwa yang berada dalam casing (jasad, red.). Perbedaan ini harus disikapi dengan bijaksana oleh tiap-tiap individu yang akan melakukan pengkajian. Penyikapan tersebut tidak boleh dipengaruhi oleh “selera” pelakunya tapi harus didasari dengan semangat penelitian atau mencari fakta sebagai hakikat pencarian ilmu pengetahuan dengan nama Allah.

Penyikapan perbedaan memerlukan proses berpikir karena seperti telah banyak dinyatakan didalam Al-Qur’an bahwa Islam adalah ajaran untuk orang yang berpikir. Islam bukanlah sekedar way of thinking tetapi juga way of life. Islam adalah bagaimana kita menyikapi hidup dan permasalahannya. umat Islam direkayasa agar berada dalam keadaan terpecah belah. Perbedaan pendapat dibesar-besarkan dengan membenturkan pendapat yang satu dengan pendapat yang lain. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 8 bahwa “sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat.” Dalam menyikapi firman tersebut, kita sebagai umat yang dituntut untuk berpikir menjadikan ayat tersebut motivasi untuk mengembangkan sikap pemakluman terhadap perbedaan pendapat, karena pendapat-pendapat yang berbeda sebenarnya saling melengkapi sebagai bahan penelusuran mencari fakta, bukan untuk diperdebatkan dengan dalih siapa yang benar menurut “selera” masing-masing. Bila hal ini terus menerus terjadi (menuhankan “siapa yang benar” bukannya menuhankan Allah), maka umat Islam yang terpecah belah ini akan mudah dikendalikan dan dieksploitasi untuk kepentingan pihak atau pihak-pihak tertentu. Padahal telah disinggung pada pertemuan sebelumnya bahwa ruku’ itu artinya penghormatan 100% kepada Allah sedangkan sujud itu artinya pasrah dan patuh 100% kepada Allah, bukan kepada hawa nafsu.

Contoh pemaknaan yaumal qiyamah. Arti per-kata dari yaum-qiyam-ummah artinya adalah hari [ke-]bangkit[-an] umat (bangsa atau bangsa-bangsa) bukan hari kehancuran seperti yang populer kita ketahui. Kejadian yaumal qiyamah merujuk kepada kebangkitan umat dari Nabi Adam hingga akhir jaman bukan pada kejadian kehancuran besar. Pemaknaan tersebut mengubah cara pandang kita tentang konteks yaumal qiyamah dimana pekerjaan baik dan buruk kita akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah. Pembahasan tersebut merujuk pada pembahasan pada pertemuan sebelumnya bahwa kita tidak akan bisa mengelak dari judgement atau penghakiman Allah pada hari tersebut, sehebat apapun kita melakukan pembenaran-pembenaran. Sebelum hari itu terjadi, maka kita harus membiasakan diri untuk istiqamah, yaitu mengubah nasib dengan baik dan benar karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubahnya dengan tindakannya sendiri.

QS. Al-Baqarah ayat 112 dengan penafsiran bahwa konsep pahala itu bergantung pada siapa Tuhannya. Kang Dicky mengajak para peserta merenung mengenai motivasi tiap individu untuk bekerja dengan baik, apakah karena ingin terlihat baik di mata bos dengan balasan “pahala” berupa kenaikan pangkat dan gaji atau karena Allah semata? Bila Tuhan kita HANYALAH Allah, maka kita tidak akan khawatir dan bersedih hati bila penghasilan, reputasi atau kebanggan itu hilang dan hancur karena kita telah memaksimalkan pekerjaan kita sesuai ketentuan Allah bukan sesuai ketentuan manusia.

QS. An-Nahl ayat 112 bahwa hanya Tuhan-lah yang mengetahui siapa saja yang tersesat di jalan-Nya. Coba kita amati fenomena bahwa manusia dengan mudahnya memberikan label sesat pada manusia atau golongan lain bila ia atau mereka menyampaikan informasi atau pengetahuan yang berbeda dengan “selera” sang pemberi label. Contoh dengan kisah yang terjadi pada Galileo Galilei yang di cap sesat oleh pihak yang mengaku agamawan sebagai “pemilik” pengetahuan pada zaman itu karena Galileo berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya. Secara spesifik, Galileo dianggap sesat karena pendapatnya bertentangan dengan doktrin pihak yang mengaku agamawan yang mengajarkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan benda-benda langit itu mengelilingi bumi. Galileo tidak takut dibilang sesat oleh pihak yang mengaku agamawan karena penelitiannya kemudian dibuktikan oleh ilmuwan-ilmuwan pada masa setelahnya sebagai fakta. Mengambil hikmah dari kisah tersebut, kita tidak boleh takut dibilang sesat oleh pandangan atau penilaian manusia tetapi seharusnya kita lebih takut dibilang sesat oleh Allah SWT, sang Maha Pencipta.

Mari kita bersikap jujur baik pada diri sendiri atau kepada orang lain. Bersikap jujur itu sulit namun baik karena ketidak-jujuran itu akan berujung menyakitkan pada akhirnya. Dengan sikap jujur, kita dituntut untuk melakukan perubahan dimulai dari diri kemudian lingkungan dengan tangan kita. Kita melakukan perubahan dari yang asalnya tidak baik menjadi baik. Penggunaan kekerasan sebagai interpretasi dari melakukan perubahan dengan menggunakan tangan kita hanya akan menghasilkan amarah dan dendam. Kang Dicky mencontohkan, bila sekelompok orang berniat memberantas peredaran miras dengan membakar warung penjualnya maka yang terjadi adalah warung itu akan dibangun kembali dan timbul kemarahan, dendam dan perlawanan terhadap sekelompok orang tersebut karena kelompok tersebut “beranggapan” yang dilakukannya “benar.” Sikap seperti ini, ditambah dengan peliputan media menyebabkan munculnya istilah Islamophobia. Istilah tersebut muncul berdasarkan stereotipe bahwa Islam adalah seolah radikal dan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Padahal Islam adalah ajaran kasih sayang, “Cinta” yang ditunjukkan Allah kepada umat manusia ibaratnya matahari, hanya memberi, tak harap kembali. Allah memberikan rizki tidak hanya kepada manusia yang beriman saja, namun kepada manusia yang tidak beriman dan menghujat-Nya pun tetap Allah berikan rizki agar mereka dapat berpikir dan kemudian berubah. Sayang, tindakan-tindakan radikal dan kontroversial tersebut seolah direkayasa agar penayangannya di media-media ditayangkan lebih sering daripada seharusnya, padahal umat Islam yang berpikir jumlahnya lebih banyak daripada yang radikal.

Kembali kepada pembahasan melakukan perubahan dengan tangan, seharusnya melakukan perubahan itu adalah memberi kontribusi dan mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat, bukan menjadi bagian dari masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Untuk melakukan perubahan diperlukan koordinasi, sedangkan koordinasi tersebut sering kita lakukan pada saat melakukan ritual ibadah shalat. Sebelum shalat dimulai, imam mengisyaratkan para ma’mum untuk meluruskan shaf menghadap ke arah kiblat dengan posisi bahu saling bersinggungan. Shalat berjamaah dapat dimaknai bahwa untuk menuju kepada jalan yang lurus dibutuhkan usaha saling bahu membahu antar individu, bukan tindakan menjadi vigilante atau melakukan pembenaran sesuai dengan “selera” aturannya sendiri bukan dengan aturan Allah.

Pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah SAW tentang siapakah orang yang bangkrut? Mereka bukanlah orang yan kehilangan hartanya, melainkan kehilangan timbangan amal baiknya pada saat yaumal qiyamah atau pada hari kebangkitan. Ia berseloroh, berbahagialah orang yang difitnah dan janganlah bersikap berlebihan dengan dalih bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Berbahagia bila difitnah karena pada saat yaumal qiyamah, penyebar fitnah akan habis pahala baiknya dibagikan kepada orang-orang yang ia jelekkan, kemudian bila pahala kebaikannya telah habis dan masih ada yang menuntut keadilan kepada Allah, maka dosa si korban fitnah akan ditransferkan kepada si pelaku fitnah agar impas.

Iistilah “menunaikan” zakat. Ia mengajukan bahwa seharusnya tindakan “menunaikan” zakat tersebut menjadi tanggung jawab individu yang mampu, walaupun pendistribusiannya bisa dilakukan dengan bekerjasama. Dalam mendistribusikan zakat, kerjasamanya dilakukan untuk menunaikan harta yang dizakatkan itu seutuhnya atau 100% tanpa potongan karena zakat adalah ladang ibadah bukan ladang usaha. Inti dari ibadah zakat adalah menyebarkan kemakmuran, yang dimaksud menyebarkan kemakmuran adalah memberikan ladang kemakmuran yang bersifat berkesinambungan seperti mendirikan warung bagi tidak mampu agar kemakmurannya meningkat alias memberi kail, bukan memberi umpan karena manfaatnya akan lebih terasa.

Pasti kita pernah berdoa untuk memohon sesuatu kepada Allah, namun seringkali kita menerapkan prinsip ekonomi dalam doa kita tersebut. Berdoa kepada Allah, bukan mengatur Allah, karena Allah telah menjamin barang siapa berdoa kepada -Ku maka pasti akan Aku kabulkan, namun kita tidak jeli memperhatikan jawaban dari doa kita tersebut. Apabila kita memohon diberikan kekuatan maka kita akan diberikan cobaan agar kita menjadi kuat, apabila kita meminta kemakmuran maka Allah akan memberikan kita kesempatan agar kita berusaha, dan bila kita memohon cinta maka Allah memberikan orang-orang untuk kita tolong agar kita mendapatkan cinta yang tanpa pamrih. Itu terjadi karena dikabulkannya doa kita oleh Allah SWT tidak luput dari usaha dan tindakan kita.

(DZA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: